Crazy Horse, telah kembali ke Singapura setelah satu dekade berhenti beraksi. Crazy horse adalah sebuah kabaret Prancis yang dikenal dengan penari wanita tanpa penutup dada. Klub franchise ini berhenti sementara karena gagal pentas di negara bagian konservatif negara Asia Tenggara.
Sebuah institusi di Paris, telah membuat klub teater kabaret ini selama 66 tahun, lalu mereka membuka sebuah klub di Singapura pada tahun 2005 ketika kota tersebut mencoba membumbui citranya dalam sebuah perombakan pariwisata. Namun selama dua tahun ini mereka menutup pembelian tiket karena penjualan tiket yang buruk.
Minggu ini kabaret itu kembali dengan "Forever Crazy", sebuah kompilasi rutinitas tak terlupakan yang baru-baru ini dimainkan di Australia. "Ini adalah produksi asli yang baru saja kami lakukan di Australia selama sembilan minggu," kata Brady. "Kami tidak mengubah apapun."
Farah Nadia, seorang anak berusia 29 tahun yang menghadiri acara perdana di Marina Bay Sands, mengatakan bahwa dia terkesan menyaksikan para penari telanjang itu menjalani rutinitas mereka. "Sebagai seorang wanita, saya percaya bahwa keseksian adalah kunci untuk percaya diri dan para wanita menggambarkannya dengan sangat baik," katanya.
Ia berencana menonton pertunjukan lagi minggu depan, tapi ia meragukan jika kampung halamannya sudah siap untuk klub kabaret permanen lainnya.
"Kita mungkin memiliki lebih banyak ekspatriat, turis atau penduduk lokal modern sekarang, tapi orang masih pemalu atau konservatif tentang pertunjukan seperti ini," katanya.
Pertunjukan yang berlangsung selama 12 malam di Singapura membatasi mereka yang dibawah usia 18 tahun ke atas.Kesenian, hiburan dan bentuk media lainnya diatur ketat di Singapura, yang menurut pemerintah diperlukan untuk menjaga stabilitas sosial.
Ketika menerbitkan lisensi "Forever Crazy", Otoritas Pengembangan Media Infocomm di pulau itu tampaknya menerima argumen panitia bahwa pertunjukan tersebut adalah sebuah bentuk seni.
"Tidaklah mudah untuk menunjukkan hal ini, tapi karena saya pikir sudah dipahami bahwa ini adalah seni dan itu terlihat sebagai seni, mereka memberi kami lisensi hiburan," kata Chantal Prud'homme, chief executive BASE Entertainment Asia.
Otoritas media "bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara mencerminkan norma sosial yang berlaku umum, sambil mempertimbangkan manfaat artistik acara tersebut," demikian dalam sebuah pernyataan email.
Sumber: http://www.reuters.com/article/us-singapore-cabaret/french-cabaret-crazy-horse-returns-to-singapore-after-a-decade-idUSKBN1CI1CX

Komentar
Posting Komentar