Setelah sukses menarik masyarakat untuk menggunakan batik, desainer Edward Hutabarat memilih kain lurik untuk diangkat ke panggung mode sebagai bentuk kecintaannya terhadap kain asli budaya Indonesia.
Dibalik tangan desainer terampil yang biasa di panggil Edo ini, lurik bertranformasi menjadi desain pakaian yang modern. Kesederhanaan motif kain yang biasa dipakai abdi keraton sebagai seragam, menambah kesan casual nan elit.
Edo masih menggunakan komposisi awal yaitu dengan menonjolkan potongan sederhana tanpa hiasan apa pun sehingga keindahan garis-garis lurik lebih menonjol. Pada beberapa rancangan ia memadukan kain lurik dengan kain bergaris.
Bagi Edo, lurik dan wastra Nusantara lainnya, seperti songket, batik, ulos, atau tenun, adalah wastra peradaban. "Kain Indonesia adalah wastra peradaban karena selalu dipakai untuk melengkapi seremoni. Mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian, selalu ada kain tradisi yang menyertai," ujarnya dalam konferensi pers pameran Tangan-Tangan Renta di Jakarta (23/8/2017).
Ketertarikan edo terhadap lurik muncul ketika ia dipercaya oleh keluarga Sultan Hamengkubuwono X untuk mendesain kebaya untuk upacara Tantingan, ritual penting dalam proses pernikahan seorang puteri Keraton.
"Waktu itu sekitar tahun 2002. Saya melihat keindahan ketika para abdi dalem memakai lurik," kata perancang yang sudah 36 tahun berkarya ini.
Selama 7 tahun setelah ketertarikannya, ia aktif mengunjungi sentra-sentra lurik di Klaten dan di Yogyakarta untuk mengeksplorasi wastra peradaban lurik.
Perjalanan edo mengelilingi sentra lurik ini, ditampilkan dalam pameran bertajuk Tangan-Tangan Renta pada 23-28 Agustus 2017 di Pelataran Ramayana Hotel Kempinski Jakarta.
Dalam pameran tersebut 40 busana pria dan wanita yang ditampilkan, Edo berhasil menampilkan lurik dalam desain pakaian yang relevan dengan kebutuhan manusia urban yang aktif.
Sumber : http://lifestyle.kompas.com/read/2017/08/24/120225220/setelah-batik-kini-giliran-lurik
Dokumentasi : Google
Dokumentasi : Google


Komentar
Posting Komentar